Oops! Mohon Maaf, sistem keamanan kami mendeteksi bahwa browser yang Anda gunakan tidak bisa membuka situs ini dengan baik. Mohon Gunakan browser lain seperti: Google Chrome!
05 December 2018 /

Jangan Terkecoh Siklus Pelana Kuda Pada Penderita DBD

Jangan Terkecoh Siklus Pelana Kuda, Kenali Siklus Pelana Kuda pada Penderita DBD, Walaupun belum tersedia obat yang mampu menyembuhkan DBD, faktor keberhasilan dalam upaya menyembuhkan, bahkan menyelamatkan nyawa penderita demam berdarah dengue (DBD) ialah dengan penanganan yang tepat waktu. Agar tidak terkecoh oleh Siklus demam berdarah dengue (DBD) atau biasa dikenal dengan Siklus Pelana Kuda Pada Penderita DBD. Berikut ini kami rangkumkan banyak informasi Siklus Pelana Kuda DBD dan Jangan sampai kita terkecoh Siklus Pelana Kuda Pada Penderita DBD.
Penyakit demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit secara tetap terdapat di tempat-tempat atau di kalangan orang-orang tertentu di sebagian besar wilayah tropis di dunia, termasuk juga Indonesia. pertama kali demam berdarah dengue ditemukan pada tahun 1954 dan masuk ke Indonesia pada tahun 1968. Kemudian ditahun 2003, penyakit ini menyebar berbagai wilayah besar kabupaten/kota di Indonesia dan sering menjadi salah satu status yang diterapkan di Indonesia untuk mengklasifikasikan peristiwa merebaknya suatu wabah penyakit, atau istilah lainnya Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan risiko kematian yang masih tinggi.
Berdasarkan informasi yang dikutif dari kementrian kesehatan, Manajemen demam berdarah berbasis wilayah “kemkes.go.id”. Demam berdarah dengue (DBD), Data  dari  seluruh  dunia  menunjukkan  Asia  menempati  urutan  pertama  dalam  jumlah  penderita  DBD  setiap  tahunnya. World  Health Organization (WHO) terhitung sejak  tahun  1968 sampai dengan tahun  2009, mencatat negara Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara. Penyakit  Demam  Berdarah  Dengue  (DBD)  masih  merupakan  salah  satu  masalah  kesehatan  masyarakat  yang  utama  di  Indonesia.  Jumlah  penderita  dan  luas  daerah  penyebarannya  semakin  bertambah  seiring  dengan  meningkatnya  mobilitas  dan  kepadatan  penduduk. Populasi DBD  pertama  kali  ditemukan  di  kota  Surabaya  pada  tahun  1968,  dimana  sebanyak  58  orang  terinfeksi dan 24 orang diantaranya meninggal dunia (Angka  Kematian (AK) : 41,3  %). Dan sejak saat itu, penyakit ini menyebar luas ke seluruh Indonesia.
Penyakit ini disebabkan oleh virus Dengue dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. DBD ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk  Aedes  yang  terinfeksi  virus  Dengue.  Virus  Dengue  penyebab  Demam  Dengue  (DD),  Demam  Berdarah  Dengue  (DBD)  dan  Dengue  Shock  Syndrome (DSS)  termasuk  dalam  kelompok  B  Arthropod Virus  (Arbovirosis) yang  sekarang  dikenal  sebagai  genus  Flavivirus,  famili  Flaviviride, dan mempunyai 4 jenis serotipe, yaitu: Den-1, Den-2, Den-3, Den-4.

Kemudian di tahun tahun 2009 sampai dengan tahun 2011 Dinas kesehatan Kabupaten Indragiri hulu (Inhu) “dinkes.inhukab.go.id” Indonesia menduduki peringkat kedua penderita DBD setelah Brazil. Angka jumlah kematian akibat DBD di Indonesia mencapai 1.125 kasus. Data tersebut sekaligus menempatkan Indonesia di Asia Tenggara sebagai negara tertinggi dalam kasus penyakit DBD. Pada tahun 2013, jumlah penderita DBD pada 31 provinsi di seluruh Indonesia mencapai 48.905 orang, termasuk 376 orang diantaranya meninggal dunia.

Mengenal Siklus Pelana Kuda Pada Penderita DBD

Jangan Terkecoh Siklus Pelana Kuda Pada Penderita DBD

Siklus Pelana Kuda DBD, sebagaian orang yang baru mendengar istilah ini mungkin akan bingung, apa hubungannya pelana kuda dengan Demam  Berdarah Dengue  atau DBD. Siklus Pelana Kuda DBD, mengingat Gejala utama penyakit DBD sangat unik, siklus demam ini memiliki grafik panas naik turun serupa pelana kuda. Oleh karena itulah istilah ini muncul Siklus Pelana Kuda DBD, dengan demikian Siklus Pelana Kuda DBD adalah istilah untuk memudahkan masyarakat dalam mengenal grafik naik-turun panas yang dialami oleh penderita DBD. Dengan demikian diharapkan kita semua lebih mudah mengenali siklus pelana kuda pada kasus DBD dan bisa dijadikan tahap awal dalam penyembuhan DBD.

 

Mengapa disebut siklus pelana kuda?

Karena dalam gejala DBD fase demam  berdarah dengue dari pertama sampai fase hari ketiga, demam akan meningkat dan pada keempat sampai hari kelima, demam akan menurun. Kemudian keenam sampai hari ketujuh, akan meningkat lagi. Pola ini sama seperti pelana kuda. Karena hal tersebut tak sedikit pula pasien terkecoh dengan siklus DBD ini. berikut ini kami sajikan informasi mengenai Fase Siklus Pelana Kuda DBD antara lain:

 

Fase Demam: Hari 1-3

Gejala awal DBD bisa dimulai dengan demam tinggi antara 39-41 derajat celsius. Demam bisa berlangsung selama 3-4 hari dan biasanya tidak dapat direda dengan obat penurun panas biasa. Walau demam bisa menjadi gejala untuk banyak penyakit, bila demam tinggi tak kunjung turun dalam waktu 2-3 hari dan disertai dengan satu atau beberapa gejala lain seperti lemas, sakit kepala, sakit di daerah bola mata, nyeri sendi dan otot, bahkan pendarahan ringan seperti pendarahan pada gusi, ataupun hilangnya nafsu makan yang disertai dengan mual muntah, sebaiknya kondisi tersebut harus segera mendapat perhatian khusus.

Penanganan: Selama demam, perbanyak minum air untuk membantu menurunkan suhu tubuh dan mencegah dehidrasi. Bila demam tak kunjung reda selama 2-3 hari, jangan tunda untuk segera menemui dokter agar mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

 

Fase Kritis: Hari 3-5

Fase ini ditandai dengan demam yang mereda. Banyak penderita yang salah kaprah dengan suhu tubuh yang kembali normal atau bahkan di bawah normal, mengaitkannya dengan kesembuhan. Padahal, penderita sedang memasuki masa di mana risiko tertinggi dari DBD dapat terjadi. Saat penderita memasuki fase ini, pembuluh darah mengalami pelebaran dengan efek munculnya ruam atau bintik merah pada kulit, itulah yang sebenarnya menyebabkan suhu tubuh menurun. Berhati-hatilah saat penderita sudah memperlihatkan tanda ruam atau bintik merah pada kulit, tandanya penderita sedang berada dalam masa kritis.

 

Bila ditangani dengan cepat dan tepat, fase Kritis bisa berlangsung tidak lebih dari 24 sampai 48 jam. Sebagian besar komplikasi yang timbul selama fase ialah perdarahan dan kelainan metabolik misalnya, hipokalsemia, hipoglikemia, atau hiperglikemia.

 

Penanganan: Penanganan medis sudah harus didapatkan oleh penderita yang telah memasuki fase ini. Keterlambatan dalam penanganan bisa menyebabkan kematian mendadak pada penderita.

 

Fase penyembuhan: Hari 6-7

Berakhirnya Fase Kritis ditandai dengan suhu tubuh yang kembali naik. Dalam fase ini, denyut nadi menguat, pendarahan berhenti, dan terjadinya perbaikan fungsi tubuh lainnya. Beberapa penderita mengaku nafsu makan mereka mulai kembali, berkurangnya bintik atau ruam merah pada kulit.

Penanganan: Pemeriksaan masih diperlukan untuk melihat perkembangan penyembuhan. Walau DBD bisa menimbulkan komplikasi, dengan mendapatkan perawatan yang tepat, DBD bisa sembuh tanpa meninggalkan gejala sisa.

 

Penyebab DBD

Penyakit demam berdarah atau DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk tersebut bisa menggigit kapan saja, baik siang maupun malam hari. Virus dengue sendiri terbagi menjadi empat strain atau tipe, yaitu DEN 1, DEN 2, DEN 3, dan DEN 4.

Ketika Anda terjangkit salah satu tipe, maka setelah pulih, tubuh Anda sudah membentuk kekebalan seumur hidup terhadap tipe tersebut. Namun Anda belum sepenuhnya aman dari DBD karena masih berpotensi menderita sakit DBD kembali oleh tipe yang berbeda. Bahkan peluang Anda untuk mengalami kondisi yang lebih serius, seperti DBD berat, menjadi sedikit lebih tinggi. Populasi penduduk yang terus bertambah dan mobilitasnya yang terus meningkat telah menyebabkan virus ini menyebar luas di dalam kelompok-kelompok yang berbeda.

Sedangkan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penular Virus dengue umumnya berkembang biak dalam genangan air, baik itu genangan air yang ada di lingkungan luar rumah seperti waduk atau selokan yang tidak mengalir, maupun di dalam rumah seperti di bak mandi. Selain itu DBD biasanya berkembang di wilayah yang tingkat sanitasinya buruk seperti di kota-kota berpenduduk padat yang terletak di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

 

Gejala DBD

Masa inkubasi virus dengue bisa berlangsung sekitar empat hingga tujuh hari. Masa inkubasi adalah jarak waktu antara virus pertama masuk ke dalam tubuh sampai gejala pertama muncul.  Gejala utama DBD adalah demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas.  Gejala ini umumnya akan terlihat pada 3-14 hari setelah masa inkubasi. Demam biasanya berlangsung selama 2-7 hari. Gejala demam ini biasanya disertai gejala lainnya yaitu: Tubuh menggigil, Sakit kepala parah, Munculnya bintik-bintik merah pada kulit, Sakit tenggorokan, Hilang nafsu makan, Nyeri pada perut dan mual-mual, Wajah yang berwarna kemerahan, Nyeri hebat pada otot-otot punggung bawah, lengan, hingga kaki, Nyeri hebat pada tulang dan sendi, Rasa sakit bagian belakang mata, Pendarahan yang tidak wajar, seperti gusi berdarah, mimisan, atau darah pada air seni.

 

Sebaiknya segera periksakan diri Anda ke dokter jika mengalami gejala diatas. Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui apakah Anda terjangkit DBD. Selain untuk mengetahui keberadaan virus dengue dalam tubuh Anda, tes darah juga penting dilakukan agar dokter bisa tahu jika terdapat masalah kesehatan serius lainnya yang bisa membahayakan jiwa Anda.

Jika segera diobati, gejala tersebut biasanya reda dalam waktu beberapa minggu. Sesudah mereda, biasanya pasien akan butuh waktu beberapa minggu lagi untuk sembuh total. Umumnya penderita DBD akan merasa sangat lelah ketika gejala penyakit tersebut mereda.

Siklus DBD Sumber dan Cara Penularan

Sumber penularan penyakit DBD adalah manusia dan nyamuk Aedes aegypti . Manusia tertular melalui melalui gigitan nyamuk yang telah terinfeksi virus dengue, sebaliknya nyamuk menjadi terinfeksi ketika menggigit penderita DBD dalam stadium viremia. Viremia terjadi pada 1-2 hari sebelum munculnya gejala dan selama kurang lebih 5 hari pertama sejak timbulnya gejala.

Jika menderita DBD berat, Anda mungkin akan membutuhkan: Perawatan di rumah sakit Cairan infus Pemantauan tekanan darah Transfusi untuk mengganti darah yang hilang

Komplikasi DBD

Meski hanya terjadi pada segelintir kasus, DBD bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih serius dan membahayakan nyawa. Kondisi tersebut dikenal sebagai DBD berat. Berikut ini adalah sejumlah tanda atau gejala dari DBD berat:

  • Tubuh yang terasa lelah.
  • Demam yang sering naik turun.
  • Nyeri pada perut secara berkelanjutan.
  • Sering mual dan muntah.
  • Pembengkakan organ hati yang dapat terlihat dari luar tubuh dan terasa sakit bila disentuh.
  • Darah yang keluar melalui hidung, muntah, bahkan melalui air seni dan tinja.

Komplikasi lainnya yang masih berkaitan dengan DBD adalah turunnya tekanan darah secara drastis dan mendadak yang disebut sebagai dengue shock syndrome. Berikut ini adalah sejumlah gejalanya:

  • Denyut nadi yang cepat dan lemah.
  • Mulut yang terasa kering.
  • Kulit yang terasa lembap dan dingin.
  • Napas yang terengah-engah.
  • Frekuensi buang air kecil yang menurun.

Sebaiknya segera periksakan diri Anda ke rumah sakit jika merasakan gejala komplikasi DBD. Penanganan yang cepat dapat mencegah penyakit tersebut menjadi bertambah parah. Di rumah sakit, penderita DBD akan diberikan cairan infus guna menstabilkan tekanan darah dan mencegah terjadinya dehidrasi.

Sebagian besar penderita komplikasi DBD segera pulih dalam waktu singkat setelah ditangani dan sudah cukup kuat untuk meninggalkan rumah sakit setelah perawatan beberapa hari.

Ciri-ciri demam berdarah pada Anak

Demam berdarah dengue (DBD) jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat dapat menyebabkan perdarahan, gagal hati, kejang dan bahkan kematian. Juga, demam berdarah dengue (DBD) biasanya berkembang pada orang yang sudah memiliki dengue. Jadi, pencegahan sangat penting.

Dikutif dari “kidshealth.org” Tanda-tanda umum dan gejala demam berdarah meliputi, tinggi demam , mungkin setinggi 105 ° F (40 ° C), sakit di belakang mata dan pada sendi, otot dan / atau tulang, sakit kepala, ruam disebagian besar tubuh, Perdarahan ringan dari hidung atau gusi, dan mudah memar

Gejala umumnya ringan pada anak-anak muda dan mereka yang terinfeksi dengan penyakit untuk pertama kalinya. anak-anak yang lebih tua, dewasa, dan orang-orang yang memiliki infeksi sebelumnya mungkin harus moderat untuk gejala yang parah.

Orang dengan DBD akan memiliki gejala yang biasa demam berdarah selama 2 sampai 7 hari. Setelah demam, gejala lain lebih buruk dan dapat menyebabkan perdarahan yang lebih berat; masalah pencernaan seperti mual, muntah, dan masalah pernapasan seperti kesulitan bernapas. Dehidrasi , perdarahan berat, dan penurunan tekanan darah. Jika DBD tidak diberi penanganan khusus. Gejala-gejala ini bisa mengancam kehidupan.

Jika Anda berpikir gejala anak Anda mungkin disebabkan oleh demam berdarah, hubungi dokter segera. Anda juga harus memanggil dokter jika anak Anda baru-baru ini berkunjung ke daerah yang memiliki demam berdarah dan mengalami demam atau sakit kepala parah.

Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan memeriksa anak Anda dan mengevaluasi gejala. Dokter akan bertanya tentang riwayat kesehatan anak Anda dan perjalanan baru-baru ini, dan mengirim sampel darah anak Anda yang akan diuji untuk penyakit ini.

Demam berdarah pada orang dewasa

Demam berdarah adalah penyakit virus ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. Gejala demam berdarah biasanya terjadi dalam 2 tahap, dimulai 2-7 hari setelah gigitan nyamuk. Fase awal (pertama 3-4 hari): Demam tinggi, Panas dingin, Sakit mata, Sakit kepala, nyeri sendi dan otot terutama punggung bawah

Kemudian tahap (kedua 3-4 hari): Berkurangnya demam (penurunan suhu badan sampai yg normal), Ruam – biasanya, bintik-bintik terang merah-ungu muncul pertama pada lengan, dan kaki, dan patch mungkin merah muda-merah di seluruh tubuh, kemudian Mual, muntah, Batuk, Sakit tenggorokan, ingusan, Kadang-kadang kembali demam tinggi, Kadang-kadang terjadi perdarahan dari hidung dan gusi di hemoragik.

Dalam kasus demam berdarah yang parah, minum obat-obatan penurun panas seperti acetaminophen, aspirin, dan ibuprofen bisa sangat berbahaya. Jangan mengambil ini atau obat lain tanpa berdiskusi dengan dokter Anda. Untuk penyakit demam, pastikan untuk beristirahat dan tubuh harus terhidrasi dengan baik.

Sangat disarankan untuk selalu mencari perawatan medis untuk penyakit dengan demam tinggi yang terus-menerus atau menyakitkan. Secara umum, ruam yang terlihat seperti titik-titik pinpoint merah-ungu (petechiae), terutama jika menyertai penyakit dengan demam, harus dievaluasi oleh dokter.

Pemulihan pasca demam berdarah

Ketika baru pulih dari DBD, biasanya tubuh Anda akan terasa lelah dan tidak fit, namun hal tersebut wajar. Sebagian besar orang baru bisa pulih dari DBD dalam waktu dua minggu, meski kadang-kadang butuh waktu beberapa minggu lagi untuk benar-benar sehat sepenuhnya.

Pengobatan dan Penanganan DBD

Hingga kini belum ada vaksinasi atau pun obat khusus untuk mengobati demam berdarah atau DBD. Pengobatan hanya berkisar pada cara untuk meringankan gejalanya, serta membuat si penderita senyaman mungkin. Jika Anda tengah mengalami gejala penyakit DBD, Anda disarankan untuk:

  • Banyak beristirahat.
  • Banyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi
  • Konsumsilah parasetamol untuk meringankan gejala demam dan nyeri (Jangan mengonsumsi ibuprofen atau aspirin karena kedua obat tersebut dapat memicu pendarahan dalam pada penderita DBD).
  • Memeriksakan diri ke dokter jika dalam waktu tiga hingga lima hari, tidak ada tanda-tanda pemulihan pada gejala yang Anda rasakan.

Pencegahan DBD

Hingga saat ini belum ada vaksin yang dapat menangkal demam berdarah. Oleh karena itu cara terbaik untuk mencegah DBD adalah dengan menghindari terkena gigitan nyamuk yang membawa virusnya. Pencegahan yang dilakukan berfokus pada pemberantasan sarang nyamuk (PSN) untuk mengurangi habitat tempat nyamuk berkembang biak. Lakukanlah PSN secara berkala dengan menerapkan 3M Plus, yaitu:

  • Menguras bak mandi dan tempat penampungan air secara teratur
  • Menutup rapat tempat-tempat penampungan air
  • Mengubur barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan sebagai tempat berkembangbiaknya nyamuk penular.

Ditambah lagi dengan melakukan tindakan yang dapat mencegah berkembang biaknya nyamuk dan jentik, yaitu:

  • Menaburkan bubuk abate untuk membunuh jentik-jentik nyamuk pada tempat-tempat air yang sulit dikuras. Ulangi 2-3 bulan sekali. Takaran penggunaan bubuk abate: 1 gram bubuk abate atau 1 sendok makan untuk 10 liter air
  • Menyingkirkan barang-barang tidak terpakai yang dapat menjadi sarang nyamuk, terutama yang berada di luar rumah dan dapat menampung air hujan
  • Membersihkan vas bunga, akuarium dan tempat minum hewan piaraan secara teratur setidaknya seminggu sekali
  • Memastikan septic tank tetap tertutup rapi dan tidak bocor
  • Memastikan talang atap rumah Anda tidak menampung genangan air
  • Hindari menggantung baju di tempat terbuka

Siklus hidup nyamuk Aedes aegypti

Aedes aegypti disebut juga serangga holometabolous. Ini berarti bahwa perkembangbiakannya melalui metamorfosis lengkap dengan telur, larva, pupa, dan tahap dewasa. Rentang hidup dewasa dapat berkisar dari dua minggu sampai satu bulan tergantung pada kondisi lingkungan. Siklus hidup nyamuk Aedes aegypti dapat diselesaikan dalam waktu satu sampai tiga minggu.

Telur
Setelah mengambil makan darah, nyamuk betina Aedes aegypti menghasilkan rata-rata 100 sampai 200 telur per batch. Betina dapat memproduksi hingga lima batch telur selama seumur hidup. Jumlah telur tergantung pada ukuran bloodmeal tersebut. Telur diletakkan pada permukaan basah di daerah cenderung ada genangan airnya, seperti di tong, drum, botol, pot, ember, vas bunga, pot tanaman, tangki, botol dibuang, kaleng, ban, pendingin air , dll dan banyak lebih banyak ditempat di mana air hujan mengumpulkan atau disimpan. Nyamuk betina Aedes aegypti bertelur secara terpisah tidak seperti kebanyakan spesies. Tidak semua telur diletakkan sekaligus, tetapi mereka dapat tersebar lebih dari berjam-jam atau hari, tergantung pada ketersediaan substrat yang cocok. Telur akan paling sering ditempatkan pada jarak yang berbeda-beda di atas garis air. Nyamuk betina tidak akan meletakkan seluruh telurnya disatu tempat, melainkan tersebar telur dibeberapa tempat.

Telur Aedes aegypti yang halus, panjang, berbentuk bulat, dan kira-kira satu milimeter panjangnya. Ketika pertama diletakkan, telur tampak putih tapi dalam beberapa menit berubah hitam mengkilap. Di iklim hangat telur dapat berkembang dalam waktu dua hari, sedangkan di daerah beriklim sedang dingin, pembangunan dapat memakan waktu hingga seminggu. meletakkan telur bisa bertahan untuk waktu yang sangat lama dalam keadaan kering, sering selama lebih dari setahun. Namun, mereka menetas segera setelah terendam air. Hal ini membuat virus dengue nyamuk sangat sulit dikendalikan.

Larva
Setelah menetas dari telur, larva memakan partikel organik di dalam air, seperti alga dan organisme mikroskopis lainnya. Sebagian tahap larva dihabiskan di permukaan air, meskipun mereka akan berenang ke bagian bawah wadah jika terganggu atau ketika makan. Larva sering ditemukan di sekitar rumah di genangan air, ban, atau dalam air objek memegang. perkembangan larva tergantung suhu. Larva melewati empat instar, menghabiskan waktu singkat di tiga pertama, dan sampai tiga hari di instar keempat. larva instar keempat sekitar delapan milimeter panjangnya. Nyamuk jantan berkembang lebih cepat daripada nyamuk betina. Jika suhu dingin, Aedes aegypti dapat tetap dalam tahap larva selama berbulan-bulan selama pasokan air yang cukup.

Pupa
Setelah instar keempat, larva memasuki tahap pupa. Nyamuk pupa dapat menanggapi rangsangan. Pupa tidak memberi makan dan memakan waktu sekitar dua hari untuk berkembang. Dewasa muncul dengan menelan udara untuk memperluas perut sehingga membelah membuka kasus kepompong dan muncul kepala pertama.