Oops! Mohon Maaf, sistem keamanan kami mendeteksi bahwa browser yang Anda gunakan tidak bisa membuka situs ini dengan baik. Mohon Gunakan browser lain seperti: Google Chrome!
08 December 2018 /

Kanker Nasofaring (KNF) Penyebab, Gejala, Pencegahan, Pengobatan, dan Pemeriksaan

Kanker Nasofaring (KNF) disebut juga Nasopharyngeal Carcinoma (NPC) adalah jenis kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut. Daerah ini disebut nasofaring.

 

Nasofaring adalah bagian sistem pernafasan yang terdiri dari dua kata Naso yang berarti hidung dan Faring yang berarti tenggorokan. Jadi Nasofaring adalah hidung bagian dalam (bagian belakang) hingga ke tenggorokan. Ketika bernapas, udara mengalir melalui hidung ke dalam tenggorokan dan nasofaring, dan akhirnya ke dalam paru-paru.
Kanker Nasofaring (KNF) Penyebab, Gejala, Pencegahan,  Pengobatan, dan Pemeriksaan

 

Penyebab Kanker Nasofaring

Penyebab kanker nasofaring belum diketahui dengan pasti. Para ilmuwan tidak yakin apa yang menyebabkan kanker nasofaring. Namun, jenis kanker ini telah dikaitkan dengan adanya virus Epstein-Barr ( EBV ).

 

Meskipun infeksi EBV umum, tidak semua orang yang memiliki EBV akan mendapatkan kanker nasofaring. Di AS, kebanyakan orang yang telah memiliki infeksi EBV tidak pernah memiliki masalah jangka panjang. Itu karena sistem kekebalan tubuh dapat menghancurkan virus.

 

Dalam kasusu yang jarang terjadi, terkdang DNA dari virus bercampur dengan DNA dalam sel nasofaring. Perubahan DNA menyebabkan sel tumbuh dan membelah normal, menyebabkan kanker.

 

Faktor Risiko kanker nasofaring naik jika sering mengonsumsi makanan yang mengandung bahan pengawet, termasuk makanan yang diawetkan dengan cara diasinkan atau diasap. Sering mengonsumsi makanan dan minuman yang panas atau bersifat panas dan merangsang selaput lendir, seperti yang mengandung alkohol. Selain itu, sering mengisap asap rokok, asap minyak tanah, asap kayu bakar, asap obat nyamuk, atau asap candu. juga meningkatkan risiko. Beberapa ilmuwan percaya bahwa zat kimia dalam hal ini lebih lanjut merusak DNA dalam sel.

 

Kanker nasofaring banyak dijumpai pada orang-orang ras mongoloid, yaitu penduduk Cina bagian selatan, Hong Kong, Thailand, Malaysia dan Indonesia juga di daerah India. Ras kulit putih jarang ditemui terkena kanker jenis ini. Selain itu kanker nasofaring juga merupakan jenis kanker yang diturunkan secara genetik (mempunyai garis keturunan penderita kanker nasofaring).

 

Sampai saat ini belum jelas bagaimana mulai tumbuhnya kanker nasofaring. Namun penyebaran kanker ini dapat berkembang ke bagian mata, telinga, kelenjar leher, dan otak. Sebaiknya yang beresiko tinggi terkena kanker nasofaring rajin memeriksakan diri ke dokter, terutama dokter THT. Risiko tinggi ini biasanya dimiliki oleh laki-laki atau adanya keluarga yang menderita jenis kanker ini.

 

Gejala Kanker Nasofaring (KNF)

Letak nasofaring yang tersembunyi di belakang hidung atau belakang langit-langit rongga mulut menyebabkan serangan kanker ini sering kali terlambat diketahui. Namun, biasanya pada stadium dini Gejala kanker nasofaring mungkin termasuk:

  1. Gangguan pendengaran , dering di telinga , atau terasa penuh tanpa disertai rasa sakit sampai pendengaran berkurang.
  2. Hidung sedikit mimisan, tetapi berulang. Hidung tersumbat terus-menerus, kemudian pilek.
  3. Penglihatan ganda atau Buram
  4. Kesulitan berbicara, termasuk suara serak
  5. Infeksi telinga yang terus datang kembali
  6. Nyeri wajah atau mati rasa
  7. Sakit kepala
  8. Benjolan di leher (Kelenjar getah bening) atau hidung
  9. Mimisan
  10. Hidung tersumbat
  11. Sakit tenggorokan
Perhatian: Perlu diingat, gejala tersebut lebih mungkin terjadi dengan banyak penyakit lain dan kondisi kesehatan yang jauh lebih serius daripada kanker nasofaring. Jika Anda memiliki salah satu dari gejala di atas, segera berkonsultasi dengan dokter atau perawat. Hanya para ahli medis yang berpengalaman yang dapat mendiagnosa atau mengesampingkan kanker nasofaring.

 

Pencegahan Kanker Nasofaring

Kanker nasofaring, umumnya tumbuh karena dipicu oleh nitrosamine atau precursor nitro. Nitrosamine ini ditemukan pada asap yang dihasilkan oleh rokok, dupa, kemenyan dan kayu bakar, obat anti nyamuk bakar serta pekerjaan yang menghasilkan serbuk-serbuk kimia, seperti peleburan besi dan serbuk kayu.

 

Selain itu, nitrosamine juga terdapat pada makanan yang diawetkan oleh nitrit. Nitrit sering digunakan untuk mengawetkan daging, ikan dan keju agar bakteri pembusuk tidak dapat berkembangbiak.
Mengambil langkah-langkah ini dapat menurunkan risiko kanker nasofaring:
  • Mengkonsumsi makanan diet kaya buah-buahan dan sayuran (brokoli, bawang putih, apel, buah delima, kacang-kacangan, ikan, buah dan sayuran ‘orange’ seperti jeruk, tomat, dan wortel.)
  • Ciptakan lingkungan hidup dan lingkungan kerja yang sehat, serta usahakan agar pergantian udara (sirkulasi udara) lancar.
  • Hindari polusi udara, seperti kontak dengan gas hasil zat-zat kimia, asap industry, asap kayu, asap rokok, asap minyak tanah dan polusi lain yang dapat mengaktifkan virus Epstein bar.
  • Hindari mengonsumsi makanan yang diawetkan, makanan yang panas, atau makanan yang merangsang selaput lendir.
  • Jangan meminum minuman beralkohol

Pengobatan Kanker Nasofaring

Jika didiagnosis dengan kanker nasofaring. Pengobatan kanker nasofaring tergantung pada banyak hal, termasuk lokasi kanker, tahap kanker dan meninjau kesehatan secara keseluruhan.  Perawatan bisa dilakukan dengan:

 

Terapi radiasi.

Terapi radiasi menggunakan sinar-X untuk membunuh sel-sel kanker dan menghentikan mereka dari tumbuh. Hal ini biasanya bagian dari pengobatan standar untuk kanker nasofaring stadium awal.

 

Salah satu jenis disebut IMRT memberikan dosis radiasi tinggi langsung ke kanker sambil meminimalkan kerusakan jaringan sehat di dekatnya. Hal itu dapat menyebabkan efek samping yang lebih sedikit atau komplikasi dari pengobatan radiasi konvensional ke nasofaring, yang dapat menyebabkan mulut kering, peradangan selaput mulut dan tenggorokan, kebutaan, cedera otak, dan kematian jaringan sehat.

 

Bedah.

Bedah kadang-kadang bisa menyembuhkan kanker nasofaring jika semua sel tumor dan kanker dibersihkan. Tapi operasi bisa sulit karena lokasi tumor dekat tengkorak. Hal itu dapat menyebabkan kerusakan permanen pada mata dan struktur lain di dekatnya.

 

Tidak semua orang dengan kanker nasofaring dapat memiliki operasi. Dokter akan mempertimbangkan lokasi dan stadium tumor ketika mendiskusikan pilihan pengobatan.

 

Obat biologis.

Obat biologis mempengaruhi bagaimana sistem kekebalan tubuh melawan penyakit. Mereka juga disebut antibodi monoklonal.

Obat biologis memblok produksi zat yang disebut faktor pertumbuhan endotel vaskular (VEGF).  Studi menunjukkan bahwa pasien dengan kanker nasofaring yang memiliki tingkat lebih rendah dari VEGF lebih mungkin untuk tetap bebas penyakit setelah pengobatan.

 

Kemoterapi.

Kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker. Dengan sendirinya, hal ini biasanya tidak membantu untuk mengobati kanker nasofaring. Tetapi dapat membantu pasien hidup lebih lama bila dikombinasikan dengan radioterapi atau obat biologis.

 

Terapi paliatif.

Pada saat ini, tidak ada obat untuk kanker kepala dan leher yang telah menyebar, atau metastasis. Tujuan pengobatan adalah untuk mengendalikan gejala dan membuat pasiensenyaman mungkin. Ini disebut terapi paliatif.

 

Uji klinis.

Jika pengobatan tidak berhasil, pertimbangkan untuk bergabung dengan uji klinis. Para peneliti selalu menguji cara-cara baru untuk mengobati kanker. Tanyakan kepada dokter atau perawat jika ada uji klinis pada kanker nasofaring.

 

Pemeriksaan Kanker Nasofaring

Pemeriksan adanya kanker nasofaring dapat dilakukan dengan CT Scan, rhinoskopi anterior dan posterior, nasofaringoskopi, biopsi dan pemeriksaan histopatologi. Karena itu, jika ada keluhan pada telinga dan hidung di satu sisi yang tidak kunjung sembuh harus segera diperiksakan ke dokter THT. Dengan tindakan yang cepat dan ditemukannya kanker pada stadium dini, maka kemungkinan untuk sembuh semakin besar.

Baca Juga “Indonesia menempati urutan ketiga negara dengan kasus kanker nasofaring terbanyak dunia. Berdasarkan riset Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)