Oops! Mohon Maaf, sistem keamanan kami mendeteksi bahwa browser yang Anda gunakan tidak bisa membuka situs ini dengan baik. Mohon Gunakan browser lain seperti: Google Chrome!
11 November 2018 /

Tips Obat Alami Untuk Anak Mengatasi Sakit Tertentu

Obat Alami Untuk Anak

Pagi Hari seorang anak merengek tidak mau masuk sekolah lagi. Tiga hari sudah anak lucu tersehut absen tidak masuk sekolah karena badannya panas, ditambah lagi ia mogok makan karena tenggorokannya sakit sehingga badannya lemas. Walaupun sudah diberi ohat, sakitnya belum berangsur baik juga, bahkan si anak malah bertambah rewel. Awalnya, oleh ibunva, anak itu mau dibawa ke dokter, tapi karena mendengar saran tetangga vang mengatakan diberi ohat alami saja dengan alasan lebih aman daripada obat kimia yang biasa diberi dokter, maka ibu darik anak itu sempat menunda niatnya. Karena khawatir dengan kondisi anaknya yang belum berangsur pulih, pagi itu juga anak itu dibawa ibunva ke dokter. Sambil menanyakan keluhan pasien kecil itu, dan melihat adanya radang di tenggorokan dan ruam merah di ketiaknya, dokter lalu mengambil contoh jaringan tenggorokkan anak itu untuk pemerikswan lab agar memastikan diagnosisnva. Setelah melihat hasil lab, dokter mengatakan anak tersebut terkena demam merah, suatu infeksi tenggorokan oleh bakteri. Dokter meresepkan antibiotik untuk mengatasi infeksinya. 

Kebanyakan nyeri tenggorokan pada anak disebabkan oleh infeksi virus ringan yang akan hilang dalam dua sampai tiga hari tanpa diobati. Dalam kasus infeksi ringan itu, demam dapat dibantu dengan pemberian obat alami sebagai alternatif dari obat pereda demam yang biasa digunakan dan dapat dibeli bebas tanpa resep. Namun, pada beberapa kasus untuk mengobati radang tenggorokan karena infeksi bakteri diperlukan antibiotika yang diresepkan dokter, karena infeksinya sudah termasuk berat yang bisa berakibat fatal.

Apa yang dimaksud dengan obat itu? “Obat alami adalah istilah yang agak membingungkan, karena hampir semua obat modern pada mulanya adalah pengembangan dari bahan obat alami. Jadi, obat alami adalah bahan berkhasiat obat yang berasal dari alam dan belum mengalami modifikasi,” kata Dr.dr. Bob Wahyudin, SpA(K), IBCLC, Ketua Sub-Divisi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Unhas, dokter spesialis anak RS Siloam, Makassar, kepada SmartLiving.

“Lebih aman atau tidaknya sangat bergantung kepada zat obat tersebut, dosis, indikasi dan cara pemberiannya bukan merujuk ke bahan alami atau non-alami. Tetapi, memang banyak obat alami yang lebih aman dan konsentrasi zat berkhasiatnya tidak terlalu tinggi, karena belum dimurnikan dan dimodifikasi, sehingga kemungkinan efek sampingnya bisa lebih kecil,” lanjutnya.

Menurut UU No.23/1992 tentang kesehatan, obat alami adalah bahan ramuan obat yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, atau sediaan sariannya (galenik), dan campuran dari bahan-bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Dalam ketentuan undang-undang, obat alami itu termasuk dalam sediaan farmasi yang dijual bebas dan tidak diresepkan dokter karena belum ada data pendukung berupa hasil penelitian ilmiah dan uji coba klinis (clinical trial). Standarisasi obat alami pada dasarnya hanya mencakup bahan (simplisia), produk jadi, dan proses pembuatan yang diterapkan dalam aturan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) yang mengikuti pola produksi obat modern.

Titik balik kembali ke obat dari bahan alam dipicu oleh kenyataan terlalu banyaknya bahan kimia yang digunakan sebagai obat dengan efek samping yang berbahaya,  sehingga muncullah ketakutan akan keracunan obat itu yang dapat berakibat penyakit kronis yang sulit disembuhkan. Dengan alasan lebih aman dibandingkan efek samping obat modern tersebut, obat alami dilirik kembali sebagai alternatif untuk pengobatan. Di Amerika Serikat, herbal, vitamin, mineral, kofaktor, dan asarn amino dijual bebas sebagai suplemen makanan, yang disahkan dalam undang-undang mengenai suplemen rnakanan dan pendidikan kesehatan (Dietary Supplement and Health Education Act/ DSHEA) tahun 1994.

Banyak konsumen Amerika Serikat yang menerima penggunaan tanaman obat dan suplemen lainnya itu sebagai suatu pendekatan “alamiah” untuk pemeliharaan kesehatan mereka. Namun, belum banyak dari bahan obat herbal itu tersebut yang sudah terstandarisasi. Selain itu, dosis yang direkomendasikan untuk tanaman tersebut, mungkin saja lebih tinggi daripada dosis klinis yang aman. Kelemahan dari obat alami tersebut adalah efek kerjanya lebih lambat, tidak standar, dan belum ada data ilmiah pendukung dari efektivitasnya yang dapat dipegang. Karena itu, obat alami tersebut tidak digunakan dalam resep dokter, tapi bisa sebagai pelengkap untuk membantu menjaga kesehatan yang tidak membutuhkan efek segera dalam pengobatan tersebut.

Itulah sebabnya, walaupun sekarang banyak ditawarkan obat alami untuk anak dengan promosi gencar sebagai pilihan obat yang lebih aman, sebaiknya digunakan dengan bijak. Bagaimana pun obat adalah “racun” yang memperbaiki gangguan keseimbangan fungsi tubuh karena berbagai hal, terutama infeksi, sehingga perlu digunakan dengan hati-hati untuk keperluan mengobati penyakit tertentu. Apalagi, perlu diingat untuk mengobati penyakit anak-anak yang memerlukan efek pengobatan segera, misalnya untuk mengatasi infeksi (demam tinggi), dokter lebih yakin pada obat modern. Tentu saja, untuk meningkatkan kondisi kesehatan anak (menambah selera makan, atau meningkatkan imunitas) dan mengatasi penyakit ringan (batuk, pilek), dapat digunakan obat alami yang bisa dibeli bebas sebagai produk jamu atau herbal bermerek.

Apa yang pertama kali sebaiknya dilakukan bila anak sakit? “Berbeda halnya dengan orang dewasa dimana penyakit yang sering dialami adalah penyakit degeneratif, pada anak – anak seringkali terjadi penyakit infeksi karena imunitas tubuh yang belum sempurna. Penyakit infeksi yang sering dialami oleh anak antara lain penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), diare, demam berdarah, tifoid, campak, dan tuberkulosis. Di samping itu penyakit non-infeksi seperti gizi buruk juga cukup banyak jumlahnya dialami anak. Kebanyakan penyakit infeksi tersebut dapat dicegah dengan imunisasi, sehingga sangat penting bagi dokter dan para praktisi kesehatan untuk mensosialisasikan dan menekankan pentingnya pencegahan penyakit dengan imunisasi,” kata dr. Bob.

Anak yang sedang sakit cenderung membuat orang tuanya lebih cemas. Bahkan, walaupun sakitnya tidak terlalu berat, anak itu membutuhkan lebih banyak perhatian dari pada biasanya. Menurut riset, diketahui kehadiran orang tua mendampingnya anak berfungsi membantu mempercepat proses penyembuhan. Dari pengalamannya, hampir semua orang tua dapat dengan cepat mengenali sakit anaknya dari gejala-gejala nyata yang muncul, seperti ruam kulit, muntah-muntah atau kesakitan. Selain itu, ada petunjuk umum lainnya yang dapat mengungkapkan bahwa si anak sedang sakit, misalnya kehilangan nafsu makan, cengeng, dan rewel yang tidak seperti biasanya.

“Gejala penyakit yang perlu mendapat perhatian khusus antara lain demam tinggi (suhu diatas 38.5 derajat celcius), batuk kronik lebih dari dua minggu, pernapasan cepat lebih dari 40 kali permenit, nadi yang sangat cepat dan badan terasa dingin. Gizi buruk yang ditandai dengan badan yang kurus, atau busung lapar juga merupakan pertanda perlunya anak dibawa ke dokter segera,” kata dr. Bob mengingatkan. Dengan memperhatikan gejala-gejala sakit si anak tersebut, lakukanlah perawatan sendiri yang dapat meringankan deritanya. Bila anak demam, misalnya, ukurlah suhu badan si anak. Bila suhu tubuhnya cukup tinggi, lakukan usaha untuk menurunkan demam dengan melepaskan pakaian anak yang basah karena keringatnya, berilah minum yang banyak air tawar matang, dan obat penurun demam sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Baringkan di ruang yang sejuk, dan usaplah kepala dan tubuhnya dengan kain yang dibasahi air hangat.

Lebih baik segera menghubungi dokter, bila terlihat gejala-gejala sebagai berikut:
(1) tidak diketahui dengan pasti apa penyebab gejala-gejala penyakit anak itu,
(2) perawatan sendiri gagal dengan terlihatnya gejala penyakit itu yang semakin memburuk, dan
(3) si anak menolak minum obat, sehingga nampak lemas, dan enggan bergerak.

Karena itu, menurut dr. Bob, cara terbaik yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk merawat anaknya yang sedang sakit di rumah, adalah dengan mengenali tanda-tanda bahaya pada anak yang merupakan pertanda anak harus segera dibawa ke dokter. “Pastikan juga asupan cairan terpenuhi dengan cairan rumahan untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Anak yang sakit apapun cenderung dapat mengalami dehidrasi karena berbagai sebab, antara lain karena nafsu makan dan minum yang menurun, demam yang tinggi, atau pernapasan yang cepat. Semua ini akan mengurangi jumlah cairan dalam tubuh. Selalu sediakan juga obat-obatan pertolongan pertama di kotak obat dirumah, antara lain obat demam, oralit, obat batuk pilek, obat mencret, obat anti kejang dan lain lain yang perlu,” katanya mengingatkan.

Bagaimana memilih obat untuk anak dengan bijak? “Cara terbaik memberikan obat pada anak sangat bergantung pada situasi dan sangat individual. Tetapi sebagai patokan, jangan memaksakan pemberian obat pada anak, bersabarlah untuk membujuk anak untuk minum obat karena mereka cenderung menolak. Bila anak berhasil minum obat, jangan lupa memberikan pujian. Ada anak yang menyukai obat yang manis, tetapi ada juga anak yang justru menyukai obat yang terasa pahit. Ada anak yang menyukai obat puyer tetapi ada juga anak yang suka obat berbentuk sirup. Bila anak memuntahkan obat segera setelah diminum, ulangi pemberian obat tersebut,” kata dr. Bob.

Untuk anak-anak, yang menjadi pertimbangan utama bagi dokter dalam pemilihan produk resepnya adalah: dosis, bentuk sediaan, dan rasa produk yang memastikan obat dapat diminum untuk mendapatkan efek pengobatan yang optimal. Obat berkhasiat yang rasanya tidak enak, cenderung ditolak si anak.  Bila membeli obat bebas. sebaiknya tetap berhati – hati karena perkembangan fungsi tubuh anak mengolah bahan kimia obat dari peredaran darah belum sempurna. Anak-anak bukanlah dewasa kecil yang obatnya sama, walaupun ada obat untuk dewasa yang boleh digunakan si anak dengan dosis yang berbeda (anak usia 7-12 tahun setengah dosis dewasa, anak usia 2-6 tahun seperempat).

Bacalah baik-baik petunjuk pada kemasan obat bebas yang akan dipilih, atau lebih baik menanyakan pada dokter atau petugas apotek lebih dahulu. Jangan berikan obat bebas untuk jangka waktu lama tanpa sepengetahuan dokter dan juga jangan berikan obat yang pernah membuat anak Anda menunjukkan gejala mual, muntah, diare, ruam, atau bengkak di persendian. Disamping hal diatas kita juga sebaiknya mengecek persediaan obat terutama batas kadaluarsanya dan memperbaharui obat tersebut setiap tahunnya.

Food and Drug Administration (FDA), BPOM Amerika Serikat, mengharuskan pemeriksaan secara berkala mengenai keamanan maupun kemanjuran kandungan obat bebas (OTC, over-the-counter) yang beredar. Managed care sebagai suatu bentuk sistem layanan kesehatan di Amerika Serikat dimana pelayanan kesehatan terlaksana secara terintegrasi dengan sistem pembiayaan menyarankan para dokter untuk membatasi harga obat yang diresepkan agar tidak membebani kantong pasiennya.

Obat Alami Apa Saja Yang Dapat Digunakan Untuk Anak? 

Studi baru dari Yale Universty melaporkan pemberian antibiotik sebelum usia 6 bulan dapat meningkatkan risiko anak terkena asma hingga 70%. Karena itu, disarankan kembali menggunakan cara-cara alami untuk mengatasi beberapa penyakit anak tertentu, sehingga sistem kekebalan tubuh anak dalam melawan penyakit bisa bekerja dengan baik. “Obat alami yang tersedia di rumah sebagai bahan dapur dapat digunakan sebagai pertolongan pertama sebelum ke dokter, sebagai contoh yakni cairan gula garam dapur untuk mengatasi dehidrasi. Beberapa jenis dedaunan juga dapat digunakan sebagai kompres alami untuk mengurangi demam,” kata dr. Bob.

Banyak pilihan untuk obat berbahan alami untuk anak yang beredar dan memenuhi ketentuan produksi obat yang baik. Namun, untuk pertolongan pertam.a sebelum ke dokter berikut ini adalah tips alami dalam mengatasi sakit tertentu pada anak, diantaranya:

■ Demam. Cairan sangat penting untuk menjaga balita dari dehidrasi dan kekurangan gula darah. Jika minuman tidak disukainya, cobalah permen sebagai gantinya untuk mengatasi kekurangan gula darah itu. Makanan sehat yang mudah dicerna juga sangat bermanfaat, seperti padi, biji-bijian, pisang, sereal, biskuit, dan roti. Tempatkan kain basah pada dahi balita selama dua menit, kemudian ulangi 3-4 kali sehari selama 20-25 menit. Rendam beberapa menit kain dalam campuran satu sdm (sendok makan) cuka sari apel dan segelas air kemudian lap ke pergelangan tangan balita, ulangi sesuai kebutuhan. Beberapa tetes minyak ikan di bawah lidah si anak akan mengembalikan tingkat vitamin A dan dapat menurunkan demam. Namun segera hubungi dokter jika demam berlangsung selama lebih dari tiga hari, atau jika terjadi pada bayi yang berusia kurang dari 12 minggu.

■ Pilek. Jangan sampai anak mengalami dehidrasi. Untuk bayi di bawah 6 bulan, terus berikan ASI. Sebelum tidur, biarkan balita benapas di uap air panas. Kemudian pangku dia dan tepuk lembut punggungnya untuk melonggarkan pernapasan dan lendir. Usapkan balsem hangat ke dada.

■ Sakit kepala. Sakit kepala sering terjadi ketika gula darah rendah, sehingga pastikan balita makan tiga kali sehari. Dehidrasi bisa menjadi penyebab sakit kepala, oleh karena itu berilah balita minum dua gelas air putih secara berkala.

■ Batuk. Berikan 2,5 ml (setengah sendok teh) madu kepada balita usia 2-5 tahun, atau 5 ml (satu sendok teh) kepada balita 6-11 tahun dan 10 ml (dua sendok teh) untuk anak 12 tahun. Ingat, jangan memberikan madu kepada bayi yang berusia kurang dari 1 tahun. Cara lain adalah, berikan kepada balita sebanyak satu sendok teh sirup campuran bawang merah yang dihancurkan dengan dua sendok makan gula yang telah dibiarkan selama 6 jam dalam botol tertutup, setiap beberapa jam sesuai kebutuhan.

■ Sakit tenggorokan. Minta balita berkumur dengan campuran garam dan baking soda (masing-masing setengah sendok teh) dalam secangkir air hangat, atau dengan air hangat yang dicampur madu dan irisan jahe.

■ Muntah. Hindari anak dari makanan atau cairan dua jam setelah muntah karena perutnya perlu istirahat untuk menghindari rangsangan yang dapat memicu muntah lagi. Jika balita benar-benar haus, beri es batu untuk dihisap-hisap.

■ Sakit perut. Untuk menenangkan sakit perut ringan, pijatlah perut si anak dengan bantuan beberapa tetes minyak esensial chamomile atau peppermint. Mandikan dengan air hangat, atau kompres hangat perutnya juga bisa menenangkan. Untuk sakit perut kronis atau akut yang berat mintalah bantuan medis.

■ Diare. Sup ayam dapat mengurangi diare karena mengandung gelatin yang dapat membantu mengikat cairan penyebab diare tersebut di dalam usus besar.

■  Gatal. Untuk mengurangi rasa gatal, campurkan baking soda dalam air mandi.

Namun, perlu diingat, bahwa tidak semua penyakit anak itu bisa ditangani sendiri secara alami di rumah. Untuk mengatasi penyakit pada anak, sebaiknya jangan memberikan sembarangan obat, karena banyak infeksi berbahaya yang memerlukan pertolongan segera agar anak terhindar dari cacat. Selain itu, kemampuan daya tahan tubuh mereka terhadap penyakit belum berkembang sempurna. Jika balita mengalami trauma, demam tinggi, atau kesulitan bernapas, sebaiknya segera hubungi dokter terdekat di tempat anda.